Cerita dari Para Petani di Sekitar Hutan Campaga

Melalui tulisan petani berharap bisa turut mempromosikan pelestarian hutan di daerahnya. Hutan Campaga di Bantaeng dianggap penting bagi konservasi air. Sekitar 500 hektar sawah yang airnya bergantung dari hutan ini. Foto: Wahyu Chandra

Di aula pertemuan warga, Saung Palaguna, di Desa Campaga, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, sekitar 20 petani dan tenaga pendamping Rainforest Alliance (RA) berkumpul.

Pagi itu, Sabtu (14/2/15), saya berkesempatan memberikan materi pelatihan jurnalisme warga kepada mereka. Antusiasme mereka terlihat ketika saya memperkenalkan Mongabay Indonesia,  sebagai media lingkungan dan pengalaman saya meliput berbagai komunitas tani di berbagai daerah.

Lokasi kegiatan cukup terpencil, berjarak sekitar 20 km dari Kota Bantaeng. Di daerah ini terdapat hutan campaga yang ditetapkan sebagai hutan desa.

Di sepanjang jalan, banyak tumbuh pohon-pohon besar tinggi menjulang, berumur puluhan hingga ratusan tahun. Terletak di ketinggian, cuaca tempat ini dingin dan berangin.

Bagi sebagian besar peserta, menulis masih hal baru, walau selama ini cukup aktif di media sosial. Sejak lama, berniat menulis berbagai potensi daerah dan berbagai masalah, termasuk masalah-masalah pertanian dan lingkungan.

“Di sini banyak sekali tanaman-tanaman lokal dan dipelihara warga. Kami punya hutan desa tetap terjaga kelestariannya. Hutan penting menjaga suplai air bagi petani,” kata Burhani, peserta juga penyuluh swadaya.

Burhani antusias mengangkat isu keberlangsungan Hutan Campaga sebagai tema tulisan. Dia berharap kelak bisa banyak menulis tentang pengalaman-pengalaman bertani sekaligus menjaga hutan.

Tulisan dia menjelaskan tentang Hutan Campaga yang memiliki beragam satwa dan flora endemik, seperti kuskus dan monyet berekor merah. Pohon campaga, salah satu tanaman endemik sebagian besar terjaga baik.

“Di sekitar hutan mengalir sungai yang mengairi 500 persawahan. Hutan ini dianggap keramat. Itu cukup efektif menjaga kelestariannya.”

Keunikan hutan ini, ketika musim hujan debit air justru turun dan melimpah kembali ketika kemarau. “Ini yang membuat petani tak pernah kekurangan air.”

Nurman, petani Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarengkeke, menuliskan berbagai pengalaman kala mendampingi petani lain berkebun kakao sekaligus menjaga lingkungan.

“Banyak pengalaman lucu di lapangan ketika mengajarkan petani-petani lain, misal, mengurangi penggunaan pestisida. Banyak yang belum mengetahui prinsip-prinsip sertifikasi lingkungan, bagus mereka mau belajar.”

 

Sebanyak 20 petani dan pendamping petani Rainforest Alliance Indonesia di sekitar hutan Campaga Kabupaten Bantaeng belajar menulis. Mereka berharap bisa berbagai pengetahuan dan pengalaman dalam bertani kakao secara ramah lingkungan dan turut menjaga kelestarian hutan. Foto: Wahyu Chandra

Petani lain, Zainuddin bercerita tentang kondisi perkebunan kakao sebelum 2010. Dulu,  kakao tumbuh di hutan dan tidak terawat baik. Banyak petani berpidah-pindah lahan ketika kakao tidak lagi produktif. “Kini kakao dianggap punya nilai ekonomis dan ditanam serta terpelihara dengan baik di kebun-kebun, tidak lagi di hutan.”

Sejak pendampingan sertifikasi RA, harga kakao meningkat. Dulu harga hanya 15.000, kini bisa Rp30.000 per kg.

Mereka diajarkan lebih sensitif pada persoalan-persoalan sekitar dan etika jurnalistik sebagai acuan menulis ataupun bermedia sosial.

Senior Manager RA di Indonesia, Najemia Tahiruddin, mengatakan, ini salah satu kegiatan RA Indonesia untuk persiapan exit project, agar petani dan pendamping bisa menuliskan berbagai masalah di lapangan.

“Kita berharap akan banyak cerita terkumpul. Itu ditulis sendiri petani dan pendamping, tidak tergantung pemberitaan media mainstream,” katanya.

Najemia berharap, petani dan pendamping bisa efektif menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi ilmu dan pengalaman dalam bertani kakao ramah lingkungan.

Program pendampingan sertifikasi lahan kakao RA di Bantaeng dinilai sukses. Terdapat 1.500 petani terlibat, dari target 750 petani.“Kisah sukses ini diharapkan ditularkan ke petani-petani dampingan RA di daerah lain.”

Kordinator Pendamping RA Bantaeng, Muadz Ardin, memberi nilai tambah kepada petani dan membangun budaya kritis pada mereka.

“Dengan menulis, mereka diharapkan mengawal program pendampingan dan program-program lain. Mereka bisa bersikap kritis pada pemberitaan.”

Dia mencontohkan, di hutan Campaga. Kelestarian alam Campaga perlu dijaga dan diawasi karena banyak ancaman mengintai, khusus illegal logging ataupun industrialisasi.

“Kita berharap warga bisa mengawal melalui tulisan-tulisan. Petani yang kami ajak terlibat yang dianggap punya minat dan fasilitas melakukannya.” Hal lain,  yang menjadi perhatian dalam pelatihan ini karena banyak pemberitaan media tentang desa mereka jauh dari kenyataan.

“Kadang ada wartawan tiba-tiba datang menulis tanpa memperkenalkan diri dan media. Tahu-tahu besok muncul berita dengan sumber tidak jelas,” kata Burhani.

Hutan Campaga memiliki keberagaman satwa dan flora, antara lain kuskus dan monyet berekor merah. Di hutan ini juga masih banyak ditemukan pohon besar tinggi menjulang. Hutan ini dikeramatkan warga. Foto: Wahyu Chandra

 

Sumber

Share :