Workshop Awal Pemetaan Pelanggaran HAM dalam Kasus Konflik Agraria di Sumatera Utara

Bertempat di Mess GKPS Medan, Workshop Awal Pemetaan Pelanggaran HAM dalam Kasus Konflik Agraria di Sumatera Utara yang diinisiasi oleh HaRI (Hutan Rakyat Institute) dan ARC (Agrarian Resource Center) dengan supervisi Komnas HAM, berlangsung selama 2 hari sepanjang Kamis-Jum’at, 26-27 Februari 2015 lalu.

Workshop yang membedah dan menganalisa beberapa kasus konflik agraria yang terjadi di Sumatera Utara serta merumuskan metode, tehnik dan interview guide pengambilan data secara partisipatif ini mempertemukan para pegiat isu agraria di wilayah Sumatera Utara. Diantaranya peneliti, antropolog juga lembaga-lembaga mitra.

Hari pertama 26 Februari 2015, Dianto Bachriadi dari Komnas HAM dan Saurlin Siagian (HaRI) serta Tri Agung ‘Jiwo’ (ARC) coba ‘menelisik’ bagaimana cara mengungkap dan menuntaskan kasus-kasus konflik agraria yang selama ini terjadi. Dianto beranjak dari agenda Komnas HAM dalam penuntasan kasus konflik agraria berdimensi pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia sementara Saurlin & Jiwo merancang bagaimana skema HaRI dan ARC dalam mengungkap kasus-kasus konflik agraria berdimensi pelanggaran HAM khususnya yang terjadi di Sumatera Utara.

Hari pertama ini kemudian ditutup dengan guideline riset agraria untuk peneliti dimana didalamnya termasuk metode, tehnik dan interview guide yang dibawakan oleh Hilma Safitri dari ARC.

Hari terakhir, 27 Februari 2015, difasilitasi oleh Wina Khairina selaku direktur pelaksana HaRI, workshop difokuskan untuk membahas lebih dalam mengenai guideline riset agraria serta hal-hal teknis dilapangan yang perlu diperhatikan oleh masing-masing peneliti, asisten peneliti dan seluruh tim.