Lingkar Studi Agraria : Kedaulatan Pangan dan Perubahan Iklim di Indonesia

Persoalan pangan, energi dan perubahan iklim sedang menuju titik nadir. Rentetan realitas pengancuran lingkungan yang selama ini terjadi menyeret kita pada berbagai persoalan pelik terkait keberlanjutan hidup manusia di bumi ini. Deforestasi, eksploitasi sumber daya alam berlebihan juga massifnya alih fungsi lahan menjadi segudang permasalahan yang belum menemukan titik terang penyelesaian.

Bertempat di kantor Hutan Rakyat Institute (HaRI), Serial diskusi bulanan Lingkar Study Agraria (LSA) 30 April 2015 lalu mengupas bagaimana kejahatan terhadap lingkungan masih terus merajalela. Kegiatan ini di hadiri oleh sekitar 30 orang aktivis, NGO, dan mahasiswa peminat studi agraria di Sumatera Utara.

Mengambil topik Konflik Agraria, Kedaulatan Pangan dan Perubahan Iklim, Longgena Ginting (Greenpeace) berpendapat bahwa pentingnya membangun kebijakan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dapat memulihkan krisis lingkungan, pangan dan enerji yang terjadi saat ini. Dimana pemerintah juga harus berani memilih model pembangunan hijau yang berkelanjutan dan berdaulat. Pemerintah juga harus tegas dalam menegakkan hukum pada industri-industri yang terbukti merusak lingkungan. Maraknya perusahaan perusak lingkungan dan kurangnya ketegasan pemerintah menjadikan persoalan ini semakin rumit.

Ia menyatakan bahwa penting memanfaatkan tanah secara berkelanjutan dengan prioritas penghasilan pangan. Menghormati hak masyarakat lokal dan adat atas tanahnya serta menghentikan eksplorasi dan eksploitasi bahan bakar berbasis karbon, reforma agraria, membangun sistem enerji yang demokratis, terdesentralisasi dan berkelanjutan. Ia juga menyatakan bahwa sangat mendesak untuk mendukung pertanian skala keluarga yang otonom. Kebijakan tersebut harus didukung dengan kebijakan terkaait kedaulatan energi. .

“Hal-hal di atas tidaklah sesulit membangun roket. Namun merupakan langkah-langkah yang sangat praktis namun sekaligus menjawab akar masalah krisis pangan, energi dan iklim yang kita hadapi saat ini. Tidak ada cara instan”. Langkah-langkah tersebut bisa kita lakukan bersama-sama untuk merubah keadaan sebelum terlambat, tambahnya.

(Erwin Sipahutar, 30042015)