Hutan Jambi Mulai Terbakar, Sawah Alami Kekeringan

Hutan Pematang Damar yang sedang diusulkan sebagai hutan wisata konservasi anggrek alam oleh Pemerintah Muarojambi, terbakar.. Foto: Gerakan Muarojambi Bersakat

Kebakaran hutan dan lahan kembali menghampiri Jambi. Beberapa kawasan hutan konservasi terbakar. Titik apipun terditeksi di konsesi perusahaan HTI maupun sawit. Bukan itu saja,  sawah-sawah juga mulai mengalami kekeringan.

Berdasarkan citra satelit Terra & Aqua Nassa mendeteksi  73 titik panas di Jambi terbanyak di Kabupaten Muarojamb (47) dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (14), Tanjung Jabung Barat (7), Merangin (2) dan Tebo (2).

Kurnianingsih,  Koordinator Bidang Pengkajian dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi menyebutkan, Muarojambi dan Tanjung Jabung Timur merupakan dua kabupaten penyumbang titik api terbanyak. “Untuk update hari ini sebagian besar tersebar di Muarojambi dan Tanjabtim. Dalam satu minggu terakhir, Tebo masih peringkat pertama tersebar di konsesi HTI dan sawit perusahaan,” katanya, Selasa(7/7/15) di Jambi.

Data BMKG, dua hari terakhir ini titik api malah merambah kawasan konservasi, seperti hutan lindung gambut di Muarojambi dan Tanjung Jabung Timur.

Hutan konservasi anggrek alam terbakar

Hutan Pematang Damar yang sedang diusulkan sebagai hutan wisata konservasi anggrek alam oleh Pemerintah Muarojambi, terbakar. Kejadian sejak minggu lalu dan menghanguskan sisi-sisi luar hutan.

“Kami berusaha memadamkan dengan peralatan sedanya. Kemarin ada beberapa anggota TNI turun lapangan membantu memadamkan api, kalau dibiarkan akan makin menyebar,” kata Ketua Gerakan Muarojambi Bersakat (GMB) Adi Ismanto.

Pantauan lapangan, api makin membesar dan menjalar ke hutan. Kepulan asap terlihat tersebar di sejumlah lokasi yang masuk Desa Mudung, Bakung, Jambi Kecil, dan Jambi Tulo, Kecamatan Maro Sebo.

Setidaknya, kata Adi,  10 hektar hutan Pematang Damar terbakar. Sejumlah pohon tempat hidup berbagai jenis anggrek alam ini hangus. Di sini, ditemukan lebih 80 jenis anggrek alam. Termasuk dua jenis langka dan dilindungi yakni anggrek macan dan bulan. Hutan ini juga menjadi habitat berbagai jenis satwa seperti kalong besar, rusa, dan lebah hutan.

Proses penetapan Pematang Damar menjadi hutan wisata konservasi anggrek tengah dikaji Tim Terpadu Pemkab Muaro Jambi. Adi berharap, tapal batas hutan Pematang Damar dan lembaga pengelola segera ditetapkan hingga pengamanan dapat dilakukan.

Tepian hutan yang sudah terlalap api di Jambi. Foto:Gerakan Muarojambi Bersakat

Penyebab kebakaran, katanya, diduga ulah manusia. Awal api diperkirakan dari sawah tua yang mengering. Api makin besar merembet ke hutan terdorong angin. Jadi, perkiraan lokasi titik awal area yang mudah dijangkau manusia. Selain itu, kanalisasi oleh perusahaan perkebunan di sekeliling hutan Pematang Damar juga merusak fungsi hidrologis. Kanal-kanal menurunkan muka air secara drastis. Padahal, hutan rawa ini tergolong selalu basah.

“Pada 1997, hutan Pematang Damar juga kebakaran hebat. Namun, saat itu setelah kemarau panjang berbulan-bulan. kini, kemarau baru satu bulan, payo (rawa) sudah kering. Itu setelah ada kanal  setahun terakhir,” katanya.

Sawah kekeringan

Kekeringan juga melanda sawah tadah hujan di Desa Jambi Kecil yang air bersumber dari hutan. Dari ratusan hektar sawah hanya 70-an hektar digarap masyarakat. Usia tanaman bervariasi antara dua sampai tiga bulan.

Tukiran, Ketua Kelompok Tani Bina Usaha Desa Jambi Kecil, menjelaskan, jika hujan tidak turun sebelum Lebaran, maka banyak petani mengalami gagal panen. “Saat ini tanah sawah kami sudah retak-retak. Padi juga banyak menguning karena kekeringan padahal kondisi rumpun besar dan bagus-bagus.”

Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Tukiran dan petani lain bekerja serabutan seperti menjadi buruh kebun sawit dan karet.

Di Tanjung Jabung Timur, sebaran titik api hampir sebagian besar di hutan lindung Londrang dan Sungai Buluh.  Taman Nasional Berbak merupakan kawasan pelestarian alam untuk konservasi hutan rawa terluas di Asia Tenggarapun beberapa waktu lalu sempat dikabarkan terbakar. Namun segera dibantah Nurazman, staf Balai Taman Nasional Berbak. “Memang ada titik api, tapi bukan di taman. Ada beberapa hektar terbakar, semua di luar Taman Nasional Berbak.”

Untuk beberapa lokasi di pinggir Taman Nasional Berbak wilayah Air Hitam,  sudah mereka padamkan.

Pemerintah Jambi membentuk Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan yang tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Jambi. Mekanisme kerja akan dimulai dari provinsi hingga desa dengan menetapkan tim relawan berjumlah lima orang. Relawan inilah yang akan menginformasikan atau mendeteksi dini titik api.

Pepohonan di hutan Pematang Damar, Jambi, yang hangus terbakar. Foto: Gerakan Muarojambi Bersakat

 

Sumber

Share :