Balai TN Leuser-Warga Kompak Menolak, Pabrik Semen Gagal Masuk Hutan Bahorok

Bukit Kapur, di kawasan hutan produksi terbatas. Bahan baku melimpah alasan rencana membangun pabrik semen di Bahorok. Warga dan BBTNGL hingga perusahaan sementara menghentikan upaya. Foto: Ayat S Karokaro

Rencana pembangunan pabrik semen dari Cibinong, di kawasan hutan produksi terbatas berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL)di Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, mendapat penolakan berbagai pihak, seperti komunitas #SaveHutanBahorok dan Balai Besar TNGL (BBTNGL).

Bagi warga, jika pabrik semen dibangun akan senasib sama di Rembang, Jawa Tengah, mengakibatkan kerusakan lingkungan dan menghancurkan konsep masyarakat adat yang turun temurun menjaga alam. Beragam keragamana hayatipun terancam.

“Tidak bisa terbayangkan jika pabrik semen jadi dibangun di Bahorok. Banyak satwa TNGL muncul dan menjalani hidup hingga terlihat ke hutan produksi terbatas tempat pabrik semen akan dibangun. Apa jadinya jika rumah mereka dihancurkan? Kami menolak pembangunan pabrik, ” kata Sastrawan, anggota #SaveHutanBahorok, ketika berbincang dengan Mongabay di di Langkat, Sabtu (2/8/15).

Saat ini, katanya, ratusan hektar lahan warga sudah dibeli perusahaan. Pengambilan sampel bahan baku juga sudah.

Dia menyatakan, bukit kapur, yang sering didatangi monyet ekor panjang, lutung, orangutan, berbagai jenis burung, hingga monyet kepala putih, akan diratakan buat mengambil bahan baku. Jika terjadi, satwa akan terancam. Belum lagi berbagai pohon jati, meranti dan pinus, banyak tumbuh disana.

“Itu kami menolak pembangunan pabrik semen di Bahorok. Banyak rugi ketimbang untung.”

Apakah perusahaan tetap akan beroperasi? Menurut Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Andi Basrul, pabrik semen ini terus bergerak menyusun rencana pembangunan di Bahorok.

Yang mengejutkan, ternyata Pemerintah Langkat dan sejumlah pihak terkait sudah menandatangani persetujuan pembangunan pabrik semen itu. Analisi mengenai dampak lingkungan (Amdal), dibuat pemegang saham yang belum memutuskan nama perusahaan buat pabrik semen ini.

Basrul menjelaskan, perusahaan mulai pemetaan area sejak 1996, berdasarkan remomendasi dari Bupati Langkat. Perhitungan kontur tanah, bahan baku, hingga lokasi pabrik juga sudah dilakukan tim survei perusahaan. Jadi, peluang pabrik dibangun cukup besar di sini.

Bagaimana agar pabrik batal berdiri? Basrul membahas khusus soal itu dengan mengumpulkan staf ahli dan kalangan NGO fokus lingkungan. Diambilah keputusan, perusahaan boleh dibangun asal mereka bisa mengevakuasi semua satwa yang ada ke TNGL.

Apakah itu berhasil? “Ya, ternyata konsep ini berhasil dilakukan. Perusahaan mundur. Pembangunan pabrik semen yang sudah direncanakan sejak 1996 mentah dan gagal berdiri.”

Lihatlah hamparan padi di balik gunung di Bahorok ini. Alam terjaga karena pabrik semen tak jadi dibangun. Foto: Ayat S Karokaro

Rekomendasi pemerintah kabupaten tidak membuat BBTNGL cair, mereka tetap bertahan dengan sikap mengutamakan kehidupan makhluk hidup di dalamnya.

Berbagai cara dilakukan para pemegang saham. Mulai menunjukkan Amdal hingga terus membeli lahan masyarakat sekitar konsesi mereka. Pada 2011-akhir 2013, perwakilan perusahaam mencoba datang lagi ke BBTNGL meminta persetujuan. Sikap Basrul tetap sama. Dengan tegas menyebutkan jika bisa mengevakuasi satwa termasuk semut sekalipun dari izin konsesi perusahaan, dia baru mau membuat pernyataan tidak menolak dan menyetujui atau tidak keberatan.

“Jika itu tidak bisa dilakukan, sampai kapanpun kami tidak akan mau memberikan izin pabrik semen berdiri disana, meski kawasan itu bukan hutan lindung.”

Perusahaan gagal mendapat persetujuan BBTNGL. Begitu juga pada 2014, sikap sama mereka dapat. Sejak 2014 hingga kini, perusahaan tidak lagi berani datang meminta persetujuan BBTNGL.

Di lapangan, sikap penolakan berbagai pihak atas rencana pembangunan  pabrik semen ini, membuat warga yang telah sempat menjual lahan kepada pemodal, membatalkan transaksi jual beli. Mereka juga bercermin dari kasus pabrik semen di Rembang.

Adapun lokasi yang akan dijadikan pembangunan pabrik semen, berada di Dusun Delapan Selang Pangeran, Desa Timbang Lawan, Kelurahan Lodamak, dan Desa Batu Gajah, Kecamatan Bahorok, Langkat. Khusus lokasi rencana pembangunan pabrik telah dijadikan perkebunan oleh warga, dengan berbagai tanaman seperti karet, salak, pinang, dan sawit. Ada juga menanam bamboo.

Tapak-tapak pengambilan sampel bahan baku di Bukit Kapur juga mulai hilang. Yang membahagiakan, satwa-satwa yang sangat berdekatan dengan TNGL, jelas terlihat. Kicau burung bersahut-sahutan. Mereka terbang bebas.

Hutan rimbun dan lebat. Suara primata terdengar jelas. Riak air sungai mengalir deras juga terdengar dari kejauhan. Obrolan penduduk yang pergi ke kebun menderes getah dan memanen salak, riuh terdengar.

Di bawah bukit kapur, ratusan batang bambu panen, siap dibawa ke kota. “Semoga mata pemerintah bisa melihat kedamaian di Bahorok. Semoga mereka menarik izin pembangunan semen di desa kami, demi hidup sehat masa datang,” kata Sastrawan.

Menurut dia, banyak cara meningkat pendapatan daerah tanpa merusak hutan, rumah beragam makhluk hidup. “Mereka sudah ada disana sebelum pemerintah ada dan berdiri,” katanya, seraya menyaksikan monyet kepala putih dan beruk lomba lari di pepohonan.

Primata ini dikenal dengan nama kedih. Monyet ini hidup di kawasan TNGL dan sering muncul di kawasan hutan produksi terbatas tempat akan berdiri pabrik semen. Beruntung BBTNGL dan sebagian warga menolak. Warga yang dulu, sempat ingin menjual tanah pun, membatalkan. Foto: Ayat Karokaro

Burung ini membawa makanan buat anaknya. Mereka sementara waktu terselamatkan dari ancaman pembangunan pabrik semen di hutan Bahorok. Foto: Ayat S Karokaro

 

Sumber