Sumatera Krisis Masalah Sosial dan Lingkungan

uin-su

Khalid Saifullah (lima dari kanan) Penulis buku Robohnya Sumatera Kami berfoto bersama seusai melaksanakan diskusi dan bedah buku di Aula Fakultas Syariah dan Hukum UIN SU Medan, Kamis (12/11). (Foto : Analisa)

Sumatera sebagai pulau yang mempunyai potensi dari kenekaragaman hayati dan sumber daya mineral telah banyak menarik perhatian banyak orang sejak dulu hingga sekarang. Keadaaan geografik Sumatera yang mempunyai banyak gunung aktif membuat Sumatera terkenal sebagai pulau yang subur untuk kegiatan perkebunan dan pertanian.

Namun sayangnya, kekayaan Sumatera tersebut bertolak belakang dengan kondisi masyarakat yang mengalami penderitaan akibat eksplorasi korporasi, konflik lahan hingga berbagai bencana yang mengancam Sumatera. Hal tersebut mencuat dalam diskusi dan bedah buku “Robohnja Sumatera Kami” yang diselenggarakan oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumut bekerja sama dengan Forum Mahasiswa Pemerhati Hukum (Formapih) di Aula Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumatera Utara Kamis, (12/11).

Khalid Saifullah (lima dari kanan) Penulis buku “Robohnya Sumatera Kami” berfoto bersama seusai melaksanakan diskusi dan bedah buku di Aula Fakultas Syariah dan Hukum UIN SU Medan, Kamis (12/11). (Foto: Analisa)

Dalam pemaparannya, Khalid Saifullah selaku penulis buku Robohnja Sumatera Kami menjelaskan, pada masa sekarang masyarakat sangat rentan terhadap masalah perampasan lahan, baik oleh korporasi ataupun pemerintah. Untuk itu, Ia berharap agar bahan-bahan bacaan dapat menjadi sumber informasi dan dapat mengedukasi masyarakat .”Target kita adalah masyarakat yang sudah menjadi korban dari korporasi, serta calon-calon yang mungkin  akan menjadi korban agar lebih waspada dan mawas diri supaya tidak menjadi bagian dari skenario jahat,”ujarnya.

Lebih lanjut, dalam buku tersebut juga dijelaskan tentang tutur lirih masyarakat dari Aceh hingga Sumatera akibat berbagai permasalahan. Salah satunya adalah pencemaran asap yang dialami oleh 6 juta masyarakat Riau sehingga mengakibatkan terganggunya kesehatan mereka.Diketahui sebanyak 68 persen kebakaran yang terjadi merupakan lahan gambut. Dari kebakaran tersebut, 31 persen terjadi pada lahan konsesnsi HTI, 12 persen HGU dan 54 persen pada kebun yang tidak mempunyai HGU. Akibat kebakaran, pada tahun 2014 kerugian ditaksir mencapai 20 triliun lebih.

Menyikapi hal tersebut, Dr.Andri Soemitra MA selaku Wakil Dekan I Fakultas Syariah dan hukum mengajak para mahasiswa agar meningkatkan daya nalar dan mampu berpikir kritis terhadap berbagai fenomena lingkungan yang terjadi. “Mari berbuat dan jadi mahasiswa yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan,”jelasnya.

Ia  berharap, dengan diskusi dan bedah buku seperti ini dapat menularkan kegelisahan yang dialami oleh masyarakat. Dengan demikian, para mahasiswa tidak hanya diam, namun dapat bertindak dan lebih memainkan peranannya sebagai agen perubahan.

Dalam kegiatan tersebut, para pembedah diisi oleh Dr. Zulham S.Hi, M.Hum selaku akademisi UIN SU, Saurlin Siagian selaku peneliti Hari Institute dan Susanto jurnalis muda Analisa. Dihadiri pula beberapa LSM dan LBH dari Kota Medan serta para dosen di lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum UIN SU. (anto)

Sumber