Diduga Menular dari Eukaliptus, Haminjon diserang Hama

12799316_986320581462656_3824402155007259000_n (1)

Pohon kemenyan yang tumbuh di Hutan Haminjon, Pandumaan – Sipituhuta, Kab. Humbahas (Foto : ES)

Petani haminjon atau kemenyan di Pandumaan dan Sipituhuta kini tengah ketakutan (Pandumaan, 04 Maret 2016). Karena diserang hama tak dikenal, haminjon kini tidak bisa disige  atau disadap. Sebagian bahkan mati secara misterius.

“Eukaliptus banyak yang mati karena hama ini. Penyakitnya kemudian menyebar ke haminjon sehingga banyak yang tidak bisa disige sekalipun pohonnya terlihat segar. Sebagian bahkan mati”. Ujar HS, seorang petani kemenyan di Pandumaan.

Hama tak dikenal ini menjadi fenomena baru bagi petani di Humbahas khususnya di Desa Pandumaan dan Sipituhuta. HS menjelaskan jenisnya berupa ulat yang ukurannya sebesar ibu jari orang dewasa, bertekstur keras dan susah diamatikan.

“Aku sudah lihat langsung itu. Jadi orang TPL membuka kulit kayu eukalyptus yang sudah diserang hama tadi. Nampak ulatnya-ulatnya melilit pohon itu. Setelah itu ulatnya mereka masukkan ke pestisida, namun ulatnya tak mati. Seperti itu juga ulat yang dihaminjon itu” tambahnya.

Dari pengamatan dilapangan, pohon eukaliptus yang terdapat di sepanjang jalan Dolok Sanggul menuju Tele memang terlihat banyak yang mati. Eukaliptus umumnya nampak kering dimana semua daunnya terlihat coklat seperti terbakar.

bdfc9084-fdb2-4814-bfcc-b317f79f45d7

Pohon eukaliptus yang mati karena diserang hama, dan diduga menularkan hama tersebut ke pohon kemenyan masyarakat adat Pandumaan – Sipituhuta (Foto : SS)

Belakangan petani kemenyan pun terkena imbas yang cukup parah. Produksi kemenyan menurun drastis hingga 7 kali lipat. Dulunya produksi mencapai 200 kg/hektar setiap tahun, terjun bebas sampai tujuh kali lipat hingga hanya sekitar 30 kg/hektar setiap tahun. Jika dihitung dengan harga kemenyan yang kini berkisar Rp.250.000/kg, maka kerugian yang diderita petani sudah mencapai Rp.42.500.000 untuk setiap hektarnya. Bila dikalkulasi dengan jumlah wilayah adat masyarakat adat Pandumaan Sipituhuta sekitar 4.500 Ha, maka masyarakat kehilangan sumber pemasukan sebesar Rp. 170 Milyar pertahun. Bukan jumlah yang sedikit tentunya.

Bapak HS menimpali bahwa dulunya masyarakat mengenal istilah ‘tanaman penghambat hama’ yang dilakukan untuk melindungi tanaman dari serangan hama. Namun dengan status tombak haminjon saat ini, hal tersebut tidak mungkin untuk dilakukan sebab masuk dalam konsesi PT. PTL.

“Dulu memang untuk menghambat hama, petani menanam pohon sebagai pembatas sekaligus melindungi lahan dari serangan hama. Ini ditanam di sekitaran Tombak Haminjon. Inilah kita sebut sebagai tanaman penghambat hama. Namun  itu tidak bisa lagi kita buat sekarang, karena itu sudah konsesi TPL’ tambahnya. Fakta tersebut menunjukkan bahwa sistem pengetahuan masyarakat adat Pandumaan dan Sipituhuta untuk mencegah hama penyakitpun, perlahan di hilangkan secara sistematis dengan keberadaan TPL.

(Erwin Sipahutar/Hutan Rakyat Institute)