Desa Tetangga Akui Tanah Adat Matio

Sebanyak 7 (tujuWhatsApp Image 2016-08-28 at 10.42.59 PMh) desa tetangga yang berbatasan dengan desa Matio mengakui keberadaan tanah adat milik Matio. Adapun ketujuh desa tetangga tersebut antara lain Pagaran, Ombur, Natumingka, Tangga Bosi, Simahenak-enak, Tukko Nisolu dan Tornagodang.

Hal ini terungkap dalam acara ulaon parsahataan yang digelar di Matio, Sabtu 27 Agustus 2016 lalu. Secara bergiliran perwakilan tujuh desa tersebut memberi kesaksian terkait tanah adat milik Matio.

Hutas Matio on, huta naung leleng do on. Jala nga adong sebelum penjajahan Bolanda. Songoni nang tano adat na, berbatasan ma nuang rap dohot tano adat hami dohot akka hosmbar balok na asing’ ujar salah satu perwakilan

(Desa Matio ini merupakan desa yang sudah lama ada. Ini sudah ada sebelum penjajahan Belanda. Begitu juga dengan tanah adatnya, itu berbatasan dengan tanah adat kami dan dengan tanah adat tetangga yang lain)

WhatsApp Image 2016-08-28 at 10.51.54 PM

Adapun ulaon parsahataan ini sendiri merupakan acara penyatuan tekad Masyarakat Adat Matio untuk berjuang merebut kembali tanah adatnya. Selain itu juga mendengar kesaksian desa tetangga terkait tanah adat yang kini tengah mereka perjuangkan tersebut di Matio, Desa Parsoburan Barat, Kecamatan Habinsaran, Tobasa.

WhatsApp Image 2016-08-28 at 10.51.48 PM

Sebelumnya tanah adat Matio sekitar ±1.500 hektar yang diwarisi dari Op. Puntumpanan Siagian tidak bisa lagi diakses oleh Masyarakat Adat Matio. Hal ini bermula dari masuknya PT. Inti Indorayon Utama (PT. TPL) sekitar tahun 80-an ke daerah tersebut. Tanah adat yang dulunya mereka kelola secara komunal tidak dapat lagi diusahai sebab secara sepihak ditunjuk masuk dalam konsesi milik PT. TPL. Masyarakat kemudian protes menuntut tanah adatnya untuk dikembalikan. Sampai saat ini penyelesaian kasus tanah adat tersebut tak kunjung menemui titik temu. (ES)  

Share :