Warga Matio Satukan Tekad Perjuangkan Tanah Adat

WhatsApp Image 2016-08-28 at 10.43.17 PM

Masyarakat adat yang tergabung dalam Masyarakat Adat Huta Matio menyatukan tekad untuk tetap memperjuangkan tanah adatnya. Tanah adat dengan luas sekitar ±1500 hektar tidak dapat lagi diusahai sebab masuk dalam konsesi PT. TPL. Akhirnya selama ini masyarakat hanya dapat mengusahai perengan-perengan (lahan miring) tandus yang berada di sekitar konsesi tersebut.

Sabtu, 27 Agustus 2016, ratusan keturunan Op. Puntumpanan Siagian tersebut menggalang kekuatan bersama untuk merebut kembali tanah adatnya. Lewat acara ulaon parsahataan  yang digelar, dukungan pun terus mengalir dari beragai pihak. Tidak hanya lembaga jaringan, tetapi desa-desa tetangga juga menegaskan akan turut mendukung perjuangan Masyarakat Adat Matio.

WhatsApp Image 2016-08-28 at 10.43.09 PM

Sebanyak 7 desa tetangga yang tanah adatnya berbatasan dengan Matio mengakui bahwa tanah adat tersebut merupakan milik keturunan Op. Puntumpanan Siagian. Diantaranya adalah desa Tornagodang, Simahenak-enak, Natumingka, Ombur, Pagaran, Tangga Bosi dan Tukko Nisolu.

Sementara itu, Dana Tarigan direktur eksekutif Walhi Sumatera Utara mengatakan akan turut mendukung perjuangan tersebut.

Perusahaan ini sudah pernah ditutup. Namun sekarang kembali berulah. Kita akan mendukung penuh perjuangan bapak dan ibu sekalian disini. Kita berjuang bersama sampai perusahaan tersebut tutup. Berjuang smpai titik darah penghabisan. Tidak ada gunanya perusahaan itu disini’ ujarnya.

Adapun ulaon parsahataan ini merupakan penyatuan tekad dan penggalangan kekuatan bersama untuk perjuangan tanah Adat Matio. Hal ini diawali dengan jiarah ke makam leluhur Op. Puntumpanan kemudian dilanjutkan dengan dengar kesaksian desa tetangga terkait tanah Adat Matio.

Turut hadir dalam acara tersebut yaitu lembaga jaringan AMAN Tano Batak, Pangaratto (perantau) dari Matio, desa tetangga dan juga ratusan orang yang peduli terhadap perjuangan Masyarakat Adat Matio./(ES)

Share :