Undangan Tidak Jelas, Warga Matio Ingatkan Dinas Kehutanan Propinsi

whatsapp-image-2016-09-16-at-10-29-35-pm

(Medan/9/15) Rapat fasilitasi konflik antara Masyarakat Adat Matio dengan PT. TPL (Toba Pulp Lestari) sempat berlangsung tegang. Hal ini bermula ketika pihak masyarakat diminta menjelaskan duduk perkara yang mereka hadapi dengan TPL. Merasa tidak mengetahui agenda rapat yang jelas, masyarakat kemudian mempertanyakan maksud Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara selaku fasilitator.

Apa maksudnya ini semua? undangan kalian tidak jelas. Ini tidak adil. Kami baru dapat agenda di meja ini, pada saat ini. Ini catatan untuk Dinas Kehutanan Propinsi. Jangan diulangi. Kami tidak tahu apa yang mau dibicarakan. Terima kasih’ berang HS, perwakilan masyarakat Matio.

Rapat yang semula berlangsung tenang dan santai mendadak hening. Halem Purba, Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara selaku pimpinan rapat pun sempat terdiam, lalu mempertanyakan proses penyampaian undangan.

Ini kenapa bisa begini? Masyarakat tidak mendapat undangan yang tidak jelas. Bagaimana ini proses mengundangnya? Coba Kepala Desa, jelaskan dulu soal ini’ ujar Halem.

Demas Simangunsong, selaku Kepala Desa Parsoburan Barat kemudian menjelaskan persoalannya.

Mohon maaf pak. Saya ditelepon Camat soal pertemuan ini, itu baru semalam. Beliau mengatakan ada undangan terkait kasus Matio, namun agendanya tidak disampaikan dengan jelas. Hanya disuruh datang. Lalu saya sampaikan kepada masyarakat’ paparnya.

Melihat camat yang tidak hadir, Halem kemudian bertanya kepada Kepala Dinas Kehutanan Tobasa. Sama halnya dengan Kepala Desa, ‘sang kadis’ menjelaskan baru megetahui undangan tersebut satu hari sebelumnya lewat WhatsApp dari salah satu staff Dinas Kehutanan Propinsi.

Tidak kunjung menemui pangkal persoalan, Halem kemudian bertanya kepada staff nya yang mengirim undangan. Si staff kemudian menjelaskan bahwa undangan sudah dikirimkan kepada Camat pada tanggal 13 September 2016.

Bagaimana kalian ini, rapat tanggal 15 tapi undangan baru disampaikan tanggal 13. Masyarakat sampai tidak dapat undangan, bahkan tidak tahu agenda rapat. Undangan itu 1 minggu sebelum sudah harus disampaikan. Jangan diulangi’ berang Halem.

Sontak ruangan menjadi riuh, beberapa orang terlihat menahan tawa. Si staff meminta maaf lalu menunduk dan diam. Rapat kemudian dilanjutkan namun sesekali masih diiringi ‘cekikan’ satu dua orang menahan tawa. Hasilnya adalah akan dilakukan penatabatasan ulang yang melibatkan Dinas Kehutanan Propinsi dan Tobasa, kedua belah pihak serta pihak-pihak terkait lainnya.

(ES)

Share :