Kronologis Penetatapan Tersangka Kepada  Ketua Komunitas Adat Huta Tungko Nisolu Dengan Tuduhan Membakar Hutan

Jumat 1 juli 2016

Dirman Rajagukguk (53) beserta ibu pergi ke ladang yang tidak jauh dari rumah mereka. Di ladang Dirman beserta ibu menanam ubi, sebelum ubi di tanam terlebih dahulu sampah-sampah sisa rumput kering dan serpihan-serpihan kayu di kumpulkan, kemudian di bakar.

Pada saat bersamaan pegawai PT. Toba Pulp Lestari, Tbk datang, yang katanya mereka ingin melihat areal, namun Dirman Rajagukguk tidak mengenali mereka. Pada waktu itu terjadi perbincangan antara karyawan PT. TPL dengan beliau, “ kenapa bapak membakar disini? Saya mau menanam ubi jawab bapak D. Rajagukguk, kemudian mereka bertanya lagi. Kenapa bapak menanami ubi disini, ini lahan PT. TPL dan kami ada Petanya!  ini  tanah Saya, milik Leluhur saya, tidak mungkin saya minta ijin pada pihak PT. TPL untuk menanami ubi di tanah saya, kalau kalian punya peta tunjukkan kepada saya,  kalian punya peta milik siapa? Milik PT. TPL atau milik Kehutanan?  Karena  kami juga memiliki peta wilayah adat!

Karyawan PT. TPL tersebut tidak menjawab dan pergi,  saat itu rumput-rumput dan serpihan kayu sudah mulai habis yang terlihat hanya bara api disertai asap kecil. Kemudian Dirman Rajagukguk beserta ibu pulang kerumah untuk makan siang.

4 Oktober 2016

Surat panggilan pertama sebagai tersangka diterima oleh istri beliau pada hari selasa tanggal 4 Oktober 2016,  sementara pada saat itu Dirman Rajagukguk  sedang bekerja bangunan di rumah warga. Setelah membaca surat panggilan tersebut beliau bingung dengan laporan itu, beliau dilapor oleh Roy Mangunsong dan Henro Sianturi selaku pegawai PT. TPL membidangi pemadaman api. Dalam surat panggilan Dirman dituduh membakar Hutan sesuai dengan perkara tindak pidana “ Setiap orang dilarang membakar hutan”  sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 ayat ( 3  ) huruf d Yo pasal 78 ayat ( 3 ) UU RI No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan, yang terjadi pada hari kamis 30 Juni 2016 sekitar pukul 13.00 wib di Compt C 189 yang berada di Dusun Tungko Nisolu, Desa Parsoburan Barat, kecamatan Habinsaran, Kabupaten Tobasa.

Rabu 5 Oktober 2016

Dirman Rajagukguk didampingi oleh salah satu dari  keluarga dan staf Advokasi AMAN Tano Batak (Yanci Pardede) memenuhi panggilan Polres Tobasa di Porsea . Tepat pada pukul 10.30 wib pemeriksaan dimulai Dirman Rajagukguk dan penyidik bernama Brigadir  Erwin  Syahputra di kantor unit Tipiter Sat. Reskrim Polres Tobasa. Ada 14 pertanyaan yang diajukan penyidik kepada Dirman Rajagukguk  ditambah ada satu point sikap keberatan Dirman Rajagukguk tentang tuduhan yang di alamatkan kepada Beliau, jadi dalam Berita Acara Pemeriksaan ( BAP) tersebut ada 15 point.

Adapun sikap keberatan Dirman Rajagukguk setelah ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan membakar hutan oleh  pihak TPL pada hari kamis 30 juni 2016. Sementara pada hari kamis 30 Juni 2016, Dirman Rajagukguk menghadiri pesta pernikahan Marga Simangunsong di Tungko Nisolu, mulai dari pagi sampai berakhirnya pesta pada malam hari tepat pada pukul 23.00 wib.

Dirman Rajagukguk menyatakan dengan tegas bahwa di desa Tungko Nisolu sudah tidak ada lagi hutan karena sudah diratakan oleh TPL. “hutan mana yang di bakar”? ketika menjawab pertanyaan penyidik tentang status  kepemilikan tanah, Dirman Rajagukguk menerangkan bahwa pada jaman dulu nenek moyang yang menitipkan tanah adat tidak mempunyai surat tanah. Pada masa pemerintahan Belanda juga belum berlaku sertifikat tanah hanya saja di buat pilar perbatasan dan pilar tersebut masih ada sampai sekarang. Bahwa tanah yang diusahai tersebut adalah tanah leluhur mereka yaitu Ompung Lottung Rajagukguk dan Dirman Rajagukguk adalah keturunan ke-10 dari generasi Oppung Lottung Rajaguguk.

Saat penyidik memberitahukan bahwa ladang  mereka adalah Hutan Negara dan dikelola oleh Pihak PT. TPL, Dirman Rajagukguk menanggapinya dengan mengatakan bahwa tidak pernah mengetahuinya. Kalaupun tanah adat kami ditetapkan sebagai Hutan Negara dan diserahkan hak kelola pada PT. TPL,  itu terjadi tanpa sepengetahuan kami keturunan Oppung Lottung Rajagukguk.

30 Oktober 2016

Surat panggilan sebagai tersangka diterima oleh Dirman Rajagukguk.

31 Oktober 2016

Dirman Rajagukguk bersama keluarga dan didampingi Biro Advokasi AMAN Tano Batak menghadiri panggilan Polres Tobasa.

 

 

 

Disusun oleh:

Biro Advokasi AMAN Tano Batak

Share :