Kekayaan Hutan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser di Kluet, Aceh Tenggara

Laporan Perjalanan Lapangan, 24-27 Februari 2021 (1)

Dok.HaRI (25/02/21) : Sungai Alas

Oleh : Widya Sandharo Bakkara

Perjalanan Medan-Kutacane Selama kurang lebih 6 jam tak mengurangi semangat tim HARI untuk melakukan kunjungan ke hutan, lokasi kelola kelompok tani dan Koperasi Serba Usaha, Aceh Tenggara. Kelompok ini sudah mengantongi izin dengan wilayah kelola yang cukup luas  yaitu sekitar 8000 hektare. Sambutan  pengurus kelompok tani tampak hangat, hal itu terlihat dari senyum dan raut wajah sumringah mereka saat tim tiba di Kutacane tepatnya di rumah ketua KSU Putra Selatan Kluet.  Aroma durian khas Kutacane hampir saja memabukkan anggota tim. Bagaimana tidak suguhan demi suguhan tak kunjung selesai sampai menjelang adzan maghrib tiba.

Kamis pagi, 25 Februari, tim melakukan diskusi dan konsultasi dengan anggota kelompok tani di posko Kelompok Tani Muara Lawe Bengkung. Pertemuan dan diskusi dengan  anggota kelompok serta penjelasan tentang peta lokasi yang diakses dari webgis MenLHK  ditampilkan melalui layar in focus. Permasalahan yang sedang dihadapi oleh kelompok adalah akses jalan darat yang belum ada menuju lokasi IUPHKm serta kurangnya pengetahuan untuk pengelolaan dan pemasaran rotan sehingga anggota kelompok yang tergabung di dalam diskusi terlihat antusias untuk bertanya. Penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan setelah diskusi menjadi sebuah momentum yang menumbuhkan semangat dan harapan pengelolaan hutan yang lebih baik.

Keesokan harinya, tim bersiap-siap berangkat menuju hutan kelola yang berada di sabuk Taman Nasional Gunung Leuser itu.  Jalur transportasi satu satunya adalah sungai Alas – sungai terpanjang di Sumatera- menuju hutan kelola. Panorama sawah dan ladang jagung di kiri dan kanan jalan mewarnai siang yang cukup terik. Pola pemukiman sepanjang perjalanan menuju ke sungai terlihat tak asing kita temui di Sumatera Utara.  Bangunan tua berbahan kayu  yang dibangun sejak tahun 50-an bergaya khas Toba terlihat nyata di sepanjang jalan. Hasil panen yang dijemur di pekarangan rumah para penduduk menambah informasi bahwa daerah sangat kaya dengan hasil pertanian.

Dok.HaRI (26/02/21): Batang Rotan

Salim Pipit, tempat yang ditandai dengan jembatan warna-warni. Biasanya boat yang ditumpangi  warga akan berangkat dan berlabuh disana. Siang itu semakin terik, boat berukuran panjang ± 12 meter itu perlahan melaju mengikuti arus sungai menuju hilir. Sesekali sang nahkoda mengurangi kecepatan saat berada di bagian sungai yang dangkal. Tidak demikian halnya saat musim penghujan, arus sungai lebih deras dan tingginya sejajar dengan sampah plastik yang bergantungan di sisi kiri dan kanan sungai.  Dua setengah jam yang cukup memacu adrenaline bagi kami. Ada beberapa titik jeram yang lumayan deras dan berpotensi membuat boat terbalik. Untung saja nahkoda cukup lihai membaca jalur sungai sehingga jeram dapat dilewati dengan aman.

Panorama alam yang begitu memukau sedikit mengurangi rasa takut yang tersirat dari raut wajah beberapa anggota tim. Pohon tualang yang tinggi menggambarkan potensi yang dimiliki oleh hutan sepanjang perjalanan.  Selain itu, sekawanan kera terlihat bergelantungan di pepohonan mencari makanan. Boat para pencari ikan hilir mudik di aliran sungai Alas, tak hanya datang dari Kutacane  tetapi juga dari Subussalam. Teknik pencarian ikan mereka lakukan dengan cara menebar jaring di sungai, sebagian ada juga yang menyalurkan hobi memancingnya. Ikan yang didapat yaitu ikan jurung dan ikan sabung. Hasil tangkapan ikan akan didistribusikan di pasar tradisional maupun dikirim ke Medan dengan harga mencapai 250.000 per kg.

Nahkoda mulai menepikan boat ke tepi kanan sungai dan mematikan mesin, pertanda sudah tiba di lokasi, semua barang diturunkan.  Para pekerja dan anggota kelompok yang diketuai oleh Pak Yacoeb sedang menyelesaikan pondok (posko) sore itu. Pondok dibangun sebagai shelter bagi anggota kelompok saat datang  untuk mengawasi Lokasi IUPHKm. Kami menyantap nikmatnya ikan jurung berkuah dengan aroma kincung dan kunyit, ikan yang  dimasak di kayu bakar terasa sangat nikmat sebelum diskusi malam dilanjutkan.

Keesokan harinya, setelah mempersiapkan segala keperluan, tim berangkat menuju hutan seluas ±8000 ha. Perjalanan ditargetkan selama 1  jam, dengan catatan tidak memasuki keseluruhan lokasi. Jalur yang dilalui oleh tim cukup menanjak pada tiga puluh menit pertama. Jalur pengangkutan kayu PT Wajar sekitar tahun 80 sampai 90-an masih tampak saat tim menuju lokasi, bahkan adanya bekas roda truk di jalur perjalanan. Semakin jauh, semakin banyak rotan yang terlihat di hutan. Lokasi yang dikunjungi kaya akan rotan dari berbagai jenis yang diperkirakan memiliki nilai ekonomis yang tinggi jika nanti sudah mampu dikelola oleh kelompok. Hal unik lainnya di hutan ini adalah adanya hewan langka yang dilindungi seperti harimau, gajah, dan orang utan.  Ketika kami melalui jalan setapak, kami melintasi jalur gajah dengan penanda bekas kaki dan kotoran gajah.

Dok.HaRI (26/02/21) : Hutan Wilayah Kelola Rotan

Dari kejauhan terlihat beberapa hamparan yang sudah rusak karena ditinggalkan begitu saja oleh eks pemilik HPH di lokasi itu sekitar 30 tahun yang lalu.

Pada sore harinya, kami pulang dan membangun kesepakatan bersama untuk membangun perencanaan bersama, penguatan organisasi, penataan jalan setapak, serta memastikan dukungan semua pihak demi lestarinya hutan dan disaat yang bersamaan, ekonomi anggota kelompok tani bisa lebih baik. Kekayaan alam dan hutan adalah kekayaan yang patut dijaga dan dilestarikan demi terjaganya keberlangsungan ekosistem. Kelompok tani Muara Lawe Bengkung dan KSU Putra Selatan memanfaatkan hutan dan betekad untuk tetap melestarikannya di masa yang akan datang.