Menjaga Asa Di Hutan Penyangga Gunung Leuser

Laporan Perjalanan Lapangan, 24-27 Februari 2021 (2)

Dok.HaRI (25/2/2021) : Dua Speed Boat bersandar di tepi sungai Alas

Oleh : Fencenel Harefa

Sungai Alas menyambut tim Hutan Rakyat Institute (HaRI) bersama pengurus KSU Putra Selatan Kluet, dan Gapoktan Muara Lawe Bengkung, di Desa Salim Pipit, Kabupaten Aceh Tenggara. Daerah ini dicapai setelah 30 menit berkendara dari Kutacane dengan mobil. Siang itu di seberang sungai, tampak anak-anak asyik bermain untuk mengakali hawa cukup gerah.

Sungai Alas merupakan satu-satunya akses keluar masuk ke hutan lindung yang akan kami tuju. Di sepanjang 46 kilometer, jalur sungai berkelok-kelok diselingi beberapa jeram, membuat rombongan berpegangan erat pada Speed Boat. Pemandangan kiri kanan menyuguhkan hutan tropis yang menjulang di pegunungan. Sesekali kami juga mendapati perladangan yang memasang papan bertuliskan “Tanah ini dijual.”

Niat tim HaRI bersama para pengurus dan anggota dua Kelompok Tani Hutan (KTH) hari itu, dipicu oleh keadaan hutan lindung di sekitar kawasan Tanam Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang terus mengalami deforestasi. Tercatat sejak tiga dekade terakhir, isu penggundulan hutan memang sudah menjadi perhatian banyak pihak. Dari data Geographic Information System, HAKA, hingga 2018, tutupan hutan telah menyusut 553.576 hektare.

Ketua KSU Putra Selatan Kluet, Muhammad Yacob, mengatakan kepada kami bahwa, “setiap kayu yang ada di hutan ini tidak boleh ditebang.” Namun prinsip tidak menebang pohon tidak dimiliki oknum-oknum yang lebih memilih merambah dan membalak secara ilegal.

Harapan untuk menjaga hutan pun mulai terbuka sejak akhir 2018. KSU Putra Selatan Kluet, dan Gapoktan Muara Lawe Bengkung, menerima Izin Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan luas total mencapai 14.869 hektare, guna melakukan restorasi, pemberdayaan ekonomi, dan penjagaan hutan.  

Dok.HaRI (25/2/21) : Pemandanga Wilayah Kelola KSU Putra Selatan Kluet

Sebuah Post Pembantu telah didirikan anggota KTH yang tiba sehari sebelumnya di wilayah kelola KSU Putra Selatan Kluet.  Dua tenda di sebelah post menjadi tempat kami beristirahat sejenak setelah 2,5 jam melintasi sungai. Dalam sebuah perbincangan, Pak Elvin, seorang pengurus Gapoktan Muara Lawe Bengkung, menyinggung maraknya perambahan hutan di sekitar kawasan TNGL.

“Semakin hari jumlah penduduk terus bertambah, tetapi ketersediaan lahan yang ingin diolah sebagai sumber mata pencaharian terbatas, itu karena sekeliling daerah ini ditetapkan sebagai hutan lindung, dan taman nasional. Jadi secara terpaksa masyarakat melakukan perambahan dan pembalakan hutan,” ujarnya.  

Lilitan Rotan Hutan

Dok.HaRI (25/2/21) : Batang Rotan

Keesokan harinya Pukul 10.00 wib, matahari sudah bersinar dari balik pegunungan. Tim HaRI bersama rombongan KSU Putra Selatan Kluet dan Gapoktan Muara Lawe Bengkung berangkat meninjau potensi rotan yang ada di wilayah kelola KTH.

Baru 5 menit menapaki jalan setapak menanjak, jalur bekas kayu pembalakan liar masih terlihat jelas. Kayu-kayu tersebut ditarik ke bawah menuruni bukit menuju tepian sungai. Dampak aktivitas senyap ini rupanya tengah mengancam keberadaan primata yang tinggal di hutan lindung itu.

Suara kera atau Embong, begitu warga lokal menamainya, saling bersahut-sahutan ketika jalur kami tidak menanjak lagi. Pak Ritongan, anggota KSU Putra Selatan Kluet, menjelaskan kalau Embong lebih aktif saat pagi dan malam hari untuk memperdengarkan suaranya.

Tidak lama dari situ, diantara batang-batang pepohonan, rotan mulai banyak kami jumpa sebagai tanaman endemik di wilayah ini. Beberapa kali rombongan berhenti untuk mengambil contoh rotan. Nantinya potensi Tanaman Hutan Bukan Kayu (HHBK) ini, akan dikelola oleh KSU Putra Selatan Kluet dan Gapoktan Muara Lawe Bengkung.

HHBK rotan akan menjadi  komoditas yang dapat meningkatkan kesejahteraan para anggota kelompok tani. Pengelolaan rotan dapat menjadi jalan tengah guna mengambil manfaat dari hutan, tampa harus merusaknya. Namun masih terdapat satu kendala yang dihadapi, akses yang tersedia saat ini masih bergantung pada sungai Alas, yang menelan ongkos tidak sedikit dan jarak yang jauh.

Sebelumnya, tim HaRI telah menyepakati perencanaan strategis bersama Pak Abi Hassan, ketua Gapoktan Muara Lawe Bengkung, dan Pak Yacob, ketua KSU Putra Selatan Kluet, untuk membangun jaringan perdagangan yang akan terhubung dengan wilayah kelola mereka. Nantinya akan ada mitra pengelolaan rotan menjadi barang jadi, sehingga nilai ekonomis lebih tinggi. 

Potensi pengelolaan rotan sangat besar di kedua wilayah kelola kelompok tani ini. Peluh perjalanan kami hari itu pun terbayar tuntas saat kembali lagi ke Post Pembantu petang hari dengan asa yang terjaga.