Mendorong Dukungan Multipihak dan Pemberdayaan Kepada Dua Kelompok Tani Rotan di Aceh Tenggara

Dok.HaRI 25/Sep/21 – Workshop Hutan Berkelanjutan

Hutan Rakyat Institute (HaRI) pada Sabtu (25/9), menyelenggarakan workshop bersama kelompok tani KSU Putra Selatan Kluet dan Gapoktan Muara Lawe Bengkung. Kedua kelompok tani ini sedang mengelola rotan hutan sebagai komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Aceh Tenggara. Total luas wilayah kelola KSU Putra Selatan Kluet dan Gapoktan Muara Lawe bengkung mencapai 14 ribu hektar, dan berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Namun pengelolaan produksi rotan oleh kedua kelompok tani masih mengalami beberapa hambatan. Akses menuju wilayah kelola belum terhubung sepenuhnya, selama ini anggota kelompok harus menempuh jalur sungai Alas sepanjang 30 kilometer, lalu diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 5 jam dari tepian sungai. Oleh sebab itu perlu diadakan dialog bersama pemerintah daerah membuka akses untuk mengangkut hasil rotan, sehingga dapat mempermudah pengangkutan dan menekan biaya produksi rotan.

Dalam pengelolaan rotan, kapasitas anggota kelompok masih belum sepenuhnya memadai, peningkatan kemampuan anggota kelompok melalui serangkaian pelatihan harus dilakukan. Pelatihan ini melibatkan tenaga profesional yang memberikan edukasi kepada anggota kelompok tani dalam peningkatan kualitas produksi, dan efisiensi produksi.

Begitu juga pada pemasaran hasil produksi rotan KSU Putra Selatan Kluet dan Gapoktan Muara Lawe bengkung sedang dalam tahap pembangunan jaringan bisnis produksi. Beberapa pengusaha lokal tertarik dengan usaha tersebut. Diharapkan ke depan kerjasama jaringan bisnis tersebut dapat dicapai.

Dengan potensi produksi rotan yang cukup besar, pengelolaan rotan oleh dua kelompok tani dalam konteks ini menyentuh berbagai aspek penting, seperti pelestarian hutan; pemberdayaan masyarakat; perlindungan hewan; dan akses. Dengan itu, maka upaya dalam menghimpun dukungan berbagai pihak menjadi penting, baik itu pemerintah daerah, pengusaha, akademisi, maupun Balai Besar TNGL. (FH)