Korban Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung Belum Mendapatkan Perhatian

Heru Agang, ketua RT di kompleks Tipar, Desa Laksanamekar, setiap malam tidur di ruang tengah rumahnya, tidak berani lagi tidur di kamar. Rumahnya mengalami retak retak parah, pasca ledakan-ledakan pembangunan terowongan kereta api cepat Jakarta Bandung di gunung Bohong. Retakan di dinding rumahnya secara visual dapat digambarkan telah menyebabkan kita bisa melihat tembus dari satu kamar ke kamar lainnya. Selain retakan2 itu, air sumurnya juga sama sekali tidak berfungsi lagi alias tidak menghasilkan air. Untuk kebutuhan hidup, sehari hari pak Heru mengharapkan antrian air dari pusat pengeboran bersama milik warga yang masih tersisa jauh dari rumahnya. Pak Heru, tidak pernah mengetahui bahwa tempat tinggalnya akan terdampak parah seperti yang sekarang. Hingga kini, pak Heru juga tidak pernah diajak bicara oleh pihak KCIC terkait masa depannya, apakah masih layak atau tidak tinggal di rumahnya yang rusak parah itu.

—————-

Akhir tahun 2020, PT KCIC melakukan peledakan dalam rangka membangun terowongan di dalam bukit Bohong sepanjang 1,1 kilometer. Bukit Gunung Bohong ini dikelilingi wilayah padat penduduk, sehingga proses peledakan yang beruntun mendapatkan protes dari masyarakat sekitarnya.

Warga Kompleks Tipar Silih Asih, RW 13 Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menggeruduk area proyek tunnel 11.1 trase Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di Gunung Bohong, awal Juni 2021. Warga geram dengan aktivitas blasting atau peledakan yang dilakukan pihak pengembang. Sebab, aktivitas untuk menembus Gunung Bohong itu sejak awal sangat mengancam keselamatan warga.

Pak Roni, ketua RW setempat, menyampaikan terdapat 22 rumah dengan retakan leval parah, sementara puluhan lainnya mengalami retakan tingkat menengah dan ringan. senada dengan pak Agam, Roni menyampaikan bahwa sejak awal rukun warga yang dia pimpin luput dari perhatian pihak KCIC. Ini adalah kekeliruan sejak awal, karena kami tidak masuk dalam kelompok terdampak dan tidak pernah dimintai pendapat terkait akan adanya pengeboran gunung Bohong, ungkapnya.

Pengaduan ke KOMNAS HAM, oleh warga terdampak pembangunan jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di ‎Margawangi, Kelurahan Cijawura, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung‎, Kamis 22 Juli 2021. Protes warga antara lain kerusakan rumah, hilangnya sumber air, polusi suara, serta konstruksi kereta cepat yang masuk ke dalam kompleks perumahan. Merespon aduan ini, Komnas HAM menyampaikan bahwa materi aduan ini berpotensi masuk sebagai pelanggaran hak atas lingkungan bersih dan hak atas rasa aman warga[1].  Komnas HAM telah melayangkan surat ke PT KCIC, untuk meminta keterangan terkait kasus itu, serta berencana untuk melakukan kunjungan ke lokasi perumahan warga terdampak.

Dari pengamatan langsung di lokasi, kelihatan puluhan rumah mengalami retak parah, sedang dan ringan. Pintu gerbang salah satu rumah mengalami penyempitan, sehingga tidak bisa lagi dibuka seperti sedia kala. Kondisi paling parah adalah hilangnya sumber air artesis, sehingga warga tergantung pada satu sumber air yang sangat terbatas, dimana warga harus antri untuk mendapatkan air dari lokasi itu. Heru Agang, mengungkapan tidak berani lagi tidur di dalam kamar tidur, tetapi memilih tidur di ruangan tengah, untuk mengantisipasi sewaktu waktu rumahnya yang sudah retak retak parah dikhawatirkan roboh.

Komplek perumahan ini berada di kaki Gunung Bohong. Gunung Bohong adalah salah satu dari 13 lokasi terowongan KCJB. Gunung Bohong sesungguhnya hanyalah sebuah perbukitan yang memiliki ketinggian sekitar 800 meter diatas permukaan laut. Terowongan yang menembus Gunung Bohong disebut sebagai Terowongan 11 dalam nomenklatur proyek KCJB.

Berbagai sumber menyebutkan, pengerjaan terowongan 11 melibatkan sub kontraktor yang terdiri dari PT CREC (China Railway Group Limited) dan PT Dahana[2]. Mengutip media Pikiran Rakyat, humas PT CREC, Viriya, menyampaikan, pasca protes warga kompleks Tipar, pihak perusahaan akan memperhatikan keluhan warga dan meninjau ulang metode pengeboran terowongan[3].

Awal Juni 2021, warga RW 13, kompleks Tipar, secara spontan melakukan protes jalan kaki ke lokasi proyek karena dampak ledakan ledakan oleh proyek itu telah mengakibatkan kerugian besar kepada masyarakat. Warga juga mengaku tidak mengetahui bahwa akan ada pembangunan terowongan dengan memakai bahan peledak, dan warga belum pernah ditanyai dan diberitahu tentang akan adanya proyek itu. 

Protes ini adalah kulminasi dari kemarahan warga terhadap pihak KCIC yang tidak dianggap tidak membuka ruang dialog, dan tidak menyediakan ruang komunikasi antara warga terdampak dengan pihak KCIC. Dari pengamatan lapangan, kompleks perkantoran KCIC dikawal oleh kelompok organisasi massa yang berpakaian seragam ormas tertentu. Berbulan-bulan kami merasa terintimidasi dengan model komunikasi kontraktor KCIC yang tidak terbuka, dan meminta pengawalan dari Ormas kepemudaan, kata Roni.

Tanggapan Pihak KCJB dan Respon Warga

Pasca protes warga, pihak KCJB meminta LAPI ITB (Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri, Institute Teknologi Bandung) untuk melakukan kajian atas peledakan ini. Dalam salah satu temuan disebutkan telah terjadi retakan dibawah perumahan penduduk yang mengakibatkan hilangnya sumber air artesis disekitar perumahan penduduk. Kerusakan parah rumah-rumah penduduk yang jaraknya secara visual sekitar 90 meter dari titik bor, diakibatkan oleh penggunaan bahan peledak berdaya ledak besar, sehingga berdampak terjadinya goncangan hebat yang dirasakan oleh penduduk sekitar gunung Bohong[1]. Informasi resmi dari website KCIC, menyebutkan jarak terdekat antara titik pengeboran dengan rumah penduduk adalah 180 meter.

LAPI ITB merekomendasikan untuk menggunakan bahan peledak berdaya ledak rendah, dengan menambah kuantitas ledakan. Laporan itu menyebutkan, dibutuhkan sekitar 360 ledakan lagi untuk menuntaskan pembukaan terowongan Gunung Bohong tersebut. Setelah rekomendasi keluar, pengeboran berlanjut dengan menggunakan bom berdaya ledak lebih kecil.

Ketika proses peledakan kembali dimulai pasca rekomendasi LAPI ITB, penduduk RW 13 tetap merasakan getaran yang hebat. Karena hal itu, mereka kembali melakukan protes. Namun, proses operasi proyek tetap saja berlangsung hingga proyek rampung, tanpa mengindahkan permintaan warga supaya proses peledakan dihentikan.

Setelah terjadinya kerusakan rumah rumah penduduk, pihak KCIC mendatangi rumah rumah penduduk dengan maksud menutup retakan retakan yang ada, tanpa melakukan konsultasi lebih dahulu. Akibatnya, warga yang rumahnya mengalami kerusakan menolak kedatangan pekerja KCIC. Ketua RW setempat, Roni, mengungkapkan kedatangan mereka dan langsung ingin melakukan penyemenan terhadap rumah yang retak-retak dianggap sebagai penghinaan. Persoalan inti tidak direspon, yakni apakah kami masih layak tinggal ditempat ini atau tidak, jadi tidak boleh ujuk ujuk melakukan penyemenan ke rumah rumah penduduk, ujar pak Roni, ketua RW 13, Desa Laksanamekar.

Dalam keterangan resminya, pihak KCIC mengklaim semua pelaksanaan konstruksi sesuai dengan aturan yang berlaku. KCIC mengikuti rekomendasi LAPI ITB, dan mendapatkan dukungan dan surat ijin dari Mabes Polri untuk melakukan kegiatan peledakan (blasting). KCIC juga mengungkapan bahwa perusahaan itu berpedoman kepada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup no 49 1996 tentang baku tingkat getaran.

Permintaan Warga Terdampak

Konstruksi terowongan di trase 11 atau Gunung Bohong telah selesai dan menyisakan kebingungan ditengah masyarakat akan dampaknya pada masa depan mereka untuk tinggal di kompleks Tipar. Permintaan warga penduduk kaki gunung Bohong itu adalah butuh kepastian apakah masih aman atau tidak tinggal di lokasi itu. Untuk itu mereka masih berharap dilakukannya penelitian menyeluruh oleh lembaga independen, khususnya geologi, untuk mengukur dampak ledakan lebih dari 300 kali yang dilakukan oleh proyek KCJB.

[4] Jarak rumah terdekat dengan titik pengeboran dengan menggunakan googlemap.


Warga juga meminta supaya diberikan ganti rugi atas kerusakan puluhan rumah di RW dan RT itu. Kami mendengar bahwa pendanaan KCIC terus mengalami revisi dari waktu ke waktu. Kami berharap dalam revisi terbaru, memasukkan wilayah kami sebagai target pemberian ganti rugi ke depan, kata Roni.

Secara khusus, PT KCIC diminta untuk memperbaiki total rumah yang tidak layak lagi dihuni yang mencapai 22 rumah. Selain itu, PT KCIC diminta menyediakan sumber air pipa untuk menggantikan air artesis mereka yang sudah mati.

Tulisan ini diupdate berdasarkan kunjungan Tim HARI ke Jawa Barat, 3- 5 September 2022.

Dokumentasi video di Youtube https://youtu.be/P2hsG216KdM

[1] https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/pr-012261459/aduan-dampak-kereta-cepat-diselidiki-komnas-ham-pemeriksaan-pihak-kcic-masih-tertunda?page=2

[2] https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/pr-01321723/pt-crec-hentikan-sementara-peledakan-di-terowongan-11-proyek-kereta-cepat

[3] https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/pr-01321723/pt-crec-hentikan-sementara-peledakan-di-terowongan-11-proyek-kereta-cepat